3 Tips Mapan Finansial Untuk Karyawan

Siapa bilang pendapatan karyawan hanya bisa bergantung pada gaji saja dan jauh dari status mapan finansial

Inilah tips mapan finansial untuk karyawan. Ringkas saja, yaitu 3i. Maksudnya?

i yang pertama adalah irit
Biasakan hidup hemat alias hidup irit. Ini tentu saja 100% berbeda dengan pelit.

i yang kedua adalah insyaf
Pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu hendaknya dihentikan. Bertobatlah. Insyaflah.

i yang ketiga adalah investasi
Perketat konsumsi, perbanyak investasi. Tidak mudah, tapi bisa.
Investasi tidak melulu harus punya dana jutaan rupiah, sekarang banyak investasi yang dapat kita mulai hanya dengan ratusan ribu saja.
Karyawan yang disiplin berinvestasi hasilnya dapat mengalahkan pengusaha yang asal-asalan mengelola keuangan.


Sekiranya 3i ini diterapkan dalam 3 tahun, maka akan terlihat hasilnya. Kalau 10 tahun? Jangan ditanya. Anda akan terkaget-kaget melihatnya. Hukum Compound telah bekerja dengan sempurna.

Berani nyoba?

disadur dari Ippho Santosa
pic source : http://www.getsmarteraboutmoney.ca 

Pendapatan vs Pertumbuhan

Investasi adalah salah satu cara yang membuat dana Anda "bekerja" untuk Anda. Tapi, sadarkah Anda bagaimana dana yang kita investasikan itu "bekerja"?

Mana yang Anda pilih jika memiliki dana untuk diinvestasikan. Pertama, apakah Anda berharap menerima sejumlah dana (layaknya sebagai pendapatan) yang bisa digunakan secara berkala, misalnya, bulanan, triwulanan, atau semesteran?

Kedua, Anda rela hanya menerima setahun sekali dalam jumlah yang relatif kecil atau bahkan tidak sama sekali pendapatan berkala, namun berharap dana yang ditanamkan tumbuh berkembang nilainya dengan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dari pilihan pertama?

Masyarakat Indonesia masih jauh lebih banyak yang memilih pilihan pertama. Di sinilah perbedaan karateristik jenis investasi yang umumnya disebut efek bersifat utang (seperti deposito dan surat utang lainnya) yang berorientasi pendapatan, dengan efek saham yang berorientasi pertumbuhan nilai.

Mengapa sebagian besar masyarakat kita lebih memilih efek bersifat utang? Padahal, banyak yang tidak membutuhkan aliran dana kas sebagai pendapatan secara berkala sehingga pendapatan tersebut diinvestasikan kembali.

Kemungkinan besar jawabnya: karena lebih mudah dipahami, lebih aman (bahkan ada yang menganggap tidak berisiko), ada jangka waktu yang jelas, dan pokok atau modal awal investasinya kembali utuh (dianggap tidak terjadi wanprestasi dari penerbit).

Sementara efek ekuitas, walau data empiris memberikan pertumbuhan nilai investasi jauh di atas efek bersifat utang dalam jangka panjang, masih memiliki stigma yang hampir seluruhnya berkebalikan. Yakni, sulit dipahami, berisiko tinggi, tidak ada jangka waktunya, hingga bisa berkurang modal investasi awalnya.

Masih banyak investor yang berorientasi jangka panjang memanfaatkan efek bersifat utang saja, yang bisa berakibat dalam jangka panjang nilai investasinya tergerus oleh tingginya inflasi. Padahal, memiliki alokasi efek saham dengan persentase tertentu untuk membentuk portofolio investasi, bisa jadi alternatif untuk melindungi nilai investasinya dari gerusan inflasi.

Di sinilah seninya berinvestasi karena selalu ada trade-off antara investasi jangka pendek dan jangka panjang, pendapatan dan pertumbuhan, serta imbal hasil dan risiko.

No pain, no gain.


Eko Pratomo
source pic & artikel: www.kontan.co.id

Tahukah Anda, Enterpreneurship Lebih Dibutuhkan Para Karyawan

Tahukah Anda, Enterpreneurship Lebih Dibutuhkan Para Karyawan

Apakah Para Pengusaha bisa terima pernyataan di atas?
Sebenarnya, Setiap orang seharusnya memiliki Naluri Entrepreneurship. Tak terkecuali.
Dan, Entrepreneurship lebih wajib dimiliki oleh para Karyawan dari pada para Pengusaha yang justru disebut Entrepreneur.

Mengapa?
Anda akan paham dengan sendirinya dengan membaca penjelasan saya sampai selesai.

Entrepreneurship merupakan racikan dari berbagai naluri manusia.

Entrepreneurship dibangun dari keinginan/hasrat untuk LEBIH Merdeka, bebas, mandiri, sejahtera, merasa berdaya, memiliki kehormatan (bukan yang berarti gila hormat ya), dan hasrat lain yang senada dengan ini semua.

Dan semua hasrat/keinginan itu lah yang menuntut berbagai naluri untuk keluar. Karena dengan naluri itulah, hasrat/keinginan tersebut bisa tercapai.

Banyak naluri yang akan keluar. Namun tidak semuanya kita sadari kehadirannya.
1. Yang mudah dirasakan/disadari antara lain Naluri Ingin Tahu yang memunculkan Naluri Mencari Tahu/Jiwa Pembelajar.
2. Naluri Mencari Solusi, Kreatifitas, Pantang menyerah. Ya, Pantang Menyerah, karena jika menyerah, berarti tidak cukup kreatif mencari solusi, Alternatif, Jalan Tengah, pokoknya selalu ada jalan.
3. Naluri untuk Bisa, Mampu, Kompeten yang menjelma menjadi Etos Kerja, Disiplin, Konsistensi, Komitmen, dan hal senada lainnya.
4. Satu lagi yang saya anggap Paling Penting. Kepekaan, Jeli, Sensitifitas, mampu melihat peluang bahkan sebelum peluang itu datang dengan melihat gejala yang ada.

Naluri ini terbentuk dari 3 Naluri di atas.
Namun tidak semua yang menggunakan Tiga Jenis Naluri di atas akan mencapai fase JELI/PEKA ini.
Karena tidak semua sadar. Maka, gunakan 3 Naluri di atas secara SADAR untuk Mencapai FASE JELI/PEKA.

Sebelum Anda memahami lebih dalam, saya ingin katakan bahwa ini semua menurut saya, jika sampai di sini Anda sudah tidak sepakat, Anda tidak perlu membaca artikel ini sampai selesai.

Karena saya masih ingin memberikan gambaran/contoh memgapa Karyawan lebih butuh Entrepreneurship.

Meski Naluriah, belum tentu Alamiah.
Jadi harus disadari bahwa Naluri yang disebut di atas perlu dilatih/dibiasakan keluar.

Lho, kalau sadar bukan naluri dong namanya?
Yang kita biasakan adalah menyadari untuk mengeluarkan naluri yang tepat.
Misal ada masalah, bukan naluri menangis/galau yang keluar, namun dibiasakan agar yang keluar naluri Mencari Solusi.

Seperti refleks. Jika ada yang memukul harus ditangkis/menghindar, bukan menutup mata.
Namun refleks menangkis/menghindar ini yang perlu dilatih/dibiasakan.

Lalu mengapa Entrepreneurship lebih dibutuhkan Karyawan?

1. Tahukah Anda, para Boss merekrut Karyawan agar bisa menggantikan peran Boss sebagai Entrepreneur dalam fokus bidang tertentu.
Ini lah yang lebih sering disebut Intrapreneurship.

Jika Anda karyawan dan tak memiliki Naluri di atas, Anda tak pantas dipekerjakan.

Coba bayangkan, jika ada karyawan bekerja tanpa naluri di atas.
Dia tak mau tahu, tak mau mencari solusi, tak mau bisa, dan tidak peka.
Kebayang? Apa yang akan dia kerjakan?
Jadi Karyawan saja dia gagal. Dipecat? Ga mau kan?

Nah, INI POIN PENTINGNYA.
Kalau tak punya Naluri di atas, Jadi Karyawan saja akan gagal. Dipecat, dsb. Sukses Jadi Karyawan saja tidak bisa. Apa lagi Jadi Karyawan Sukses?

Tapi kalau Pengusaha Tidak Punya Naluri di atas, dia akan tetap Sukses Jadi Pengusaha. Karena tak ada yang akan Memecatnya.
Meski tidak akan Jadi Pengusaha Sukses

Hehe, maaf. Ngelantur ya?
Tapi bener apa bener?
So, siapa yg lebih butuh Entrepreneurship?


2. Itu sekedar Sukses jadi Karyawan.
Apa lagi kalau mau Jadi Karyawan Sukses. Naluri diatas, atau saya sebut dengan kata Entrepreneurship wajib ada Pada Karyawan.
Karena, semakin Anda Menggunakan dan Meningkatkan Naluri di atas, semakin layak Anda Naik Jabatan.
Karena semakin layak Anda menggantikan Boss Anda pada Peran yang lebih besar.

3. Sesukses-sukses Anda sebagai Karyawan, pendapatan, kesejahteraan, tingkat berdayanya Anda yang terangkum dalam istilah Gaji, Bonus, dll tetap ada yang Membatasi.
Kalaupun naik, ya kurvanya linier. Tidak bisa eksponensial.
Datar saja. Tak ada lompatan.
Sudah begitu, Karyawan punya Istilah Pensiun dalam Kamusnya. Saat dia Pensiun, Pensiun pula gajinya. Kalau masih ada ya tidak lebih banyak saat bekerja.

So, HASRAT Untuk LEBIH Mandiri, Sejahtera, berdaya perlu ada pada Karyawan.
Dan HASRAT itu lah pondasinya ENTREPRENEURSHIP.
Jika tidak punya Hasrat itu, Kesejahteraannya berakhir saat Kariernya berakhir.

4. Lalu bagaimana? Jika harus berbisnis akan mengganggu pekerjaan, menurunkan profesionalitas, dsb.

Di sini Lah Karyawan harus memiliki Naluri JELI/PEKA. Karena Pandai saja tak cukup, maka Panda-pandailah menemukan Peluang.

Apa sih yang selalu dimiliki Karyawan yang membuat Pengusaha Cemburu?
Gaji, ya gaji. Itu adalah instrumen penggarak perusahaan.
Gaji Anda uang kan?
Pengusaha menyebutnya Modal.
Jika Anda punya uang, dan selalu hadir setiap bulannya, itu berarti 1 peluang yang WOW BANGET.
Sorry jadi lebay. Terlalu semangat kalau sudah Membahas Peluang.

[1] SATU PELUANG sudah Anda miliki.
Lalu apa lagi?
Robert Kiyosaki mengatakan "Carilah Asset untuk pindah Kuadran dari penerima gaji Menjadi Investor."
Investor menerima hasil tanpa menjalani bisnis, inilah Pasif Income sesungguhnya.

Investor Jeli Melihat Peluang dan Memperhitungkan resiko.
Bukan, ciut menghadapi resiko.

Investasi Emas tidak beresiko kok.
Perlu Anda Tahu, Emas Bukan Instrumen Investasi.
Emas hanya menjaga nilai harta. Menjaganya dari inflasi.

Lalu investasi apa?
Banyak. Kita ambil 1 contoh.

Misal ada
Peluang Investasi Tanaman Hutan

Dengan Kejeliannya, dia akan segera tahu, bahkan pasti sudah tahu sejak lama Bahwa Organisme Hidup merupakan Instrumen Investasi yang Real Hasilnya. Karena Hasilnya tumbuh seiring pertumbuhan Organisme tersebut. Baik Tanaman atau Hewan.

Lalu akan muncul Naluri Ingin Tahunya (Naluri 1).
Dia akan banyak bertanya.

Berapa nilai Investasinya?
Bagaimana mekanisme investasi dan bagi hasilnya?

Misal
Rp200.000/Pohon yang ditanam dan dirawat 7 tahun.

Mekanismenya tinggal investasikan sejumlah uang sesuai Jumlah Asset Pohon yang yang ingin dimiliki.
Setelah 7 tahun akan dipanen atas nama Investor.
Hasil panen akan dibagi 50% untuk Investor dengan sebelumnya akan dikembalikan nilai investasinya 100%.
So, investor menerima Rp200.000 sebagai kembali modal investasinya + 50% bagi hasil.
Dengan asumsi Harga setelah panen = harga saat ini, maka 1 pohon = Rp800.000.
Memiliki 1 pohon berarti mendapatkan kembali Rp200.000
Plus 50% dari sisanya Rp600.000 = Rp300.000.
Total Rp500.000.

Investor akan berhitung,
berapa hasil jika punya banyak pohon?

Namun bukan investor jika tidak jeli.
Investor akan paham bahwa semakin banyak yang ditanam, semakin efisien biaya yang dikeluarkan.

Lalu dia akan kembali mancari tahu sekaligus mencari solusi dengan bernegosiasi agar mendapat nilai investasi ya kecil dan hasil tetap besar.
Bagaimana jika aku invest untuk banyak pohon?
Apakah ada potongan harga?

Pemilik usaha mungkin akan sedikit kebingungan. Namun pasti peluang mendapatkan modal akan tetap diambil. Pengusaha akan berhitung ulang.

Sembari menunggu Pengusaha berhitung, saya kasih tahu 1 hal, itu Investornya Karyawan biasa Lho.
Pengusahanya bisa dibikin bingung.
Keren ya?
Makanya, miliki lah Entrepreneurship.

Lanjut ya.
Misal hasil hitungan pengusaha sebagai berikut:
Pengusaha menawarkan harga paket
1-10 pohon @Rp200.000
15-50 pohon @Rp180.000 (hemat Rp300.000-1jt)
70-200 pohon @170.000 (hemat 2,1jt-6jt)
>200 pohon @Rp165.000 (hemat >Rp7jt)

Investor akan mengambil sebesar yang dia bisa.
Bahkan lebih Jeli lagi, dia akan ajak Karyawan lain untuk Patungan, agan nilai yang diinvestasikannya lebih kecil.

Cerdik ya. Jelinya tidak pernah berhenti.

Dan benar saja. Kejeliannya tidak berhenti sampai di situ.

Semua investor tahu dengan adanya resiko.
Dan jika Anda tahu, semua investor memperhitungkan dan mengendalikan resiko.
Bukan lari dari resiko.
Karena lari dari resiko juga berarti lari dari peluang.

Naluri ingin tahu akan muncul lagi.
Dan bertanya lagi.
Apa mungkin investasi ini tak beresiko?

Pengusaha pun menjawab "ada".
Namun bukan pengusaha kalau tidak ahli di bidangnya.

Pengusaha tahu bahwa dalam penanaman selalu ada kematian pohon, dan para ahli yang meminimalisir dan dia menanam lebih banyak dari yang dinvestasikan.
Dicadangkan lebih banyak dari potensi kematiannya.

Pengusaha juga tahu tentang bahaya pencurian, maka dilibatkan warga dalam proses bisnisnya, sehingga warga merasa itu asset mereka juga dan pasti menjaganya.

Pengusaha juga tahu bahwa bencana bisa saja terjadi. Namun hanya Tuhan yang mampu menolaknya. Maka banyaklah berdoa dan bertaqwa. Itu saja. Benar?

Investor pun bisa memantapkan diri turut berinvestasi.

Mungkin Anda salah satu orang yang memiliki naluri Entrepreneurship yang tinggi.

Jika tidak, tidak mungkin. Sedikit banyak pasti ada dalam diri Anda.
Betul? Anda pasti merasa Naluri-naluri  Entrepreneurship itu ada, namun mungkin baru saja Anda SADARI.

Dan sadar atau tidak Anda sedang bertanya-tanya.

Apakah benar ada PELUANG INVESTASI yang semudah dan semenjanjikan seperti di atas?

Pengusaha katakan "ada"

Percaya atau tidak, Hubungi saja
Drajat via
sms/WA/Line di
085647027845

Munculkan naluri ingin tahu Anda dan Tanyakan semua yang ingin Anda ketahui.

Atau sudah mantab?
Boleh langsung Isi Formulir Pendaftaran investasi pohon secara online di :

Gunakan terus naluri Entrepreneur Anda.
Dan buktikan kejelian Anda dalam melihat peluang ini.

NB:
Karena Hujan sudah turun, penanaman akan dipercepat.
Dan tinggal tersisa 100 pohon saja.

Investor selalu cepat dalam bertindak.
Hubungi segera via
sms/WA/Line
085647027845 (Drajat)
www.google.com